LONG LIFE EDUCATION

Loading...

Rabu, 28 Maret 2012

HADITS TENTANG CIRI-CIRI ORANG MUNAFIK

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat, taufik, dan inyah-Nyalah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dan yang merupakan tuntutan sebagai ajuan tugas untuk mata kuliah Ilmu Hadits. Mengingat begitu pentingnya kegiatan belajar khususnya dalam mata kuliah Ilmu Hadits, tentunya penyusunan makalah “Hadits Tentang Ciri-Ciri Orang Munafik” ini tidak hanya didasarkan pada tuntutan tugas, namun juga diharapkan untuk bisa sedikit menambah pengetahuan, hingga dalam tahapan-tahapannya kita memahaminya dengan baik dan benar.
Namun demikian kami menyadari betul bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, kepada para pembaca dan para ahli yang budiman, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan pembelajaran kami dan tahapan-tahapanya. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, merupakan tanda pemghargaan kami yang tiada taranya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga penyusunan makalah yang sangat sederhana ini bisa benar-benar bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Amin


BAB IPENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar istilah munafik. Kata munafik atau terkadang sering di ucapkan ketika kita merasa di khianati atau di bohongi oleh seseorang. Sebenarnya apa itu Munafik? dan adakah ciri-ciri khusus atau tanda-tanda orang munafik?
Setiap kita mendapatkan pertanyaan apa ciri-ciri orang munafik? Pasti jawaban yang terpikir adalah apabila dipercaya ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari, apabila berkata ia berbohong. Tidak heran, karena di tiap jenjang pendidikan selalu diajarkan tentang apa itu munafik, ciri-cirinya ,bagaimana menghindarinya, dsb dan jawaban untuk pertanyaan ciri-ciri orang munafik selalu ditekankan pada 3 hal tersebut. Mungkin tujuannya supaya setiap orang bisa benar-benar mengerti apa itu munafik dan bisa menjuhkan diri dari kemunafikan. Tapi, apakah diri ini sudah benar-benar jauh dari kemunafikan setelah mendapatkan pengetahuan tersebut bertahun-tahun, setelah tahu garis besar ciri-ciri orang munafik? Tidak ada yang tahu, kecuali hati. Hanya qalbu yang bisa memberi tahu apakah diri ini termasuk dalam golongan orang munafik atau tidak. Namun seringkali manusia cenderung mengedapankan pikiran daripada hati, sehingga manusia tidak tahu apakah dirinya orang munafik atau tidak dan yang ada hanyalah manusia semakin terjerumus dalam kemunafikannya.
B.    Rumusan Masalah
a.    Apa itu Munafik?
b.    Apakah ciri-ciri Orang Munafik
C.    Tujuan Penulisan
a.    Memahami pengertian munafik.
b.    Mengetahui ciri-ciri munafik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Munafik
Kata al-Munafik (jamak al-munafiqun) berarti “orang yang berpura-pura atau ingkar”. Apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati serta tindakannya. Ia hanya ingin dilihat sebagai orang yang mengerjakan kebaikan (amal Islami).
B.    Ciri-ciri Orang Munafik
Dalam shahih Bukhari bab ‘alamat al-Munafiq, diriwayatkan:
حد ثنا سليمان أبو الربيح قال حد ثنا إسما عيل بن جعفر قال : حد ثنا نا فع بن ما لك بن أبي عا مر أبو سهيل عن أبيه عن أبي هريرة عن النبي  فال : اياة المنافق ثلاث إذا حد ت كذ ب وإذا وععد اخلف وإذا ائتمن خان.
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu ar-Rabih telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Malik bin Abi ‘Amir Abu Suhail dari ayahnya dari Abu Huarairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan al-Nasa’i).
Ayat ialah tanda yang jelas, menunjuk kepada masalah yang tersembunyi di belakangnya. Tiga sifat tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi tanda-tanda munafik pada tiga sifat tersebut saja, melainkan lebih dari itu, diantaranya melampaui batas perdebatan. Tujuannya mengingatkan kepada dasar-dasarnya, karena dalam beragama terbatas dasarnya pada tiga persoalan, yaitu perkataan, perbuatan dan niat. Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa berdusta akan merusakkan kata-kata, berkhianat akan merusakkan perbuatan dan melanggar janji akan merusakkan niat. Sebab melanggar janji sangat tercela di hadapan manusia apalagi di hadapan Allah swt.  
Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. menyebutkan bahwa melampaui batas dalam perdebatan juga termasuk tanda kemunafikan.
 حد ثنا قبيصة بن عقبة قا ل : حد ثنا سفيا ن عن الأ عمش عن عبد الله بن مرة عن مسروق عن عبدالله  بن عمر وأن النبي صلى الله عليه وسلم قا ل : اربع من كن فيه كان منا فقا خا لصا ومن كا نت فيه خصلة منهن كا نت فيه خصلة من النفا ق حتى يد عها، اذاائتمن خا ن واذ حد ث كذب واذا عا هد غد ر واذا خا صم فجر.  
Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin ‘Uqbah berkata : telah menceritakan kepada kami Sofyan dari al-‘Amsy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin Amr ra. berkata Rasulullah saw. bersabda : ada empat perkara yang barangsiapa (empat perkara ini) terdapat pada dirinya secara lengkap, maka dia itulah orang munafik yang sesungguhnya. Dan barangsiapa yang terdapat padanya satu perkara sifat saja, maka ia termasuk munafik juga, hingga ditinggalkan sifat yang satu ini. (empat perkara itu) ialah : (1) apabila ia dipercaya ia berkhianat, (2) apabila berkata ia berdusta, (3) apabila berjanji ia ingkar, (4) apabila berdebat ia melampaui batas (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan al-Nasa’i).    
Rasulullah saw. menjelaskan, bahwa siapa yang terdapat padanya keempat sifat tersebut di atas, berarti dia benar-benar munafiq, dan barangsiapa yang terdapat padanya sebagiannya, berarti terdapat padanya sifat munafiq menurut kadar yang ada padanya. Sifat itu ialah mengkhianati amanat, dusta dalam pembicaraan, melanggar janji dan melampaui batas dalam perdebatan.
Sunguh menarik sifat-sifat tersebut untuk dijelaskan, karena akan merusak nilai-nilai keimanan dan ketentraman masyarakat (instabilitas). Sifat-sifat tersebut merupakan kejahatan yang berbahaya dan tidak mesti muncul dari orang-orang mukmin yang hatinya itu penuh dengan keimanan.
Mengkhianati amanat merupakan kezaliman terhadap pemilik amanat dan menghilangkan kepercayaan masyarakat. Khianat identik pencurian, bahkan sebagian ulama menafsirkan bahwa khianat itu merupakan tindakan yang tidak terpuji menurut syara’ (agama). Perbuatan khianat ini dapat terjadi dalam bentuk transaksi, seperti mengurangi timbangan, mempermainkan harga dikala paceklik, tidak memperhatikan sesorang yang menjadi tanggungannya, misalnya anak asuh. Sementara amanat itu mencakup segala sesuatu apa yang diamanatkan orang kepadanya, seperti harta, kehormatan, jiwa atau masalah-masalah lain yang Allah ciptakan sebagai pedoman yang harus diajarkan kepada masyarakat dan ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan nyata, untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk aplikasi (pengamalannya). Karena menyalahgunakan amanat akan berimplikasi pada penyalahgunaan kitab Allah (al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya (hadits). Allah swt. Menggunakan istilah khianat seperti terlihat dalam firman-Nya sebagai berikut:
              
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS. Al-Anfaal: 27).
Berdusta dalam berbicara adalah faktor dasar munafiq. Ia dapat merusak akhlak dan penyebab kerendahan orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Dia akan kehilangan kepercayaan dalam urusan apapun juga dan yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah pengacau dan penipu masyarakat. Bahkan pendusta pada hakikatnya adalah bangkai diantara orang-orang hidup. Sementara menyalahi janji atau melanggar persetujuan merupakan pintu dusta. Allah swt. telah menetapkan komunikasi kemunafikan hati yang menyebabkan pengingkaran janji, dalam firman-Nya :
                   
Artinya:  Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta (QS. Al-Maidah : 77).
Ingkar janji merupakan penyebab hilangnya kepercayaan. Termasuk juga perbuatan mencuri waktu, dimana akibatnya akan merusak hubungan dalam berbagai dimensi dan pada gilirannya akan merugikan uaha masyarakat banyak dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian pula membatalkan persetujuan merupakan kejahatan yang paling besar apabila ia berkeinginan untuk mengingkari janji. Tetapi apabila ia berusaha untuk menepati janji, kemudian ditimpa sesuatu musibah yang menyebabkan ia tidak dapat menepatinya, maka ia tidak ternasuk munafik, karena ia telah berusaha menepati segala janjinya, namun hal-hal tertentu sehingga dengan tidak sengaja ia meninggalkannya. Maka ia hanya mendapat dosa meskipun tidak termasuk kategori munafik.
Melampaui batas dalam berdebat dan tidak berpihak pada kebenaran adalah termasuk dosa besar, dimana akhirnya akan membawa kerusakan-kerusakan yang besar. Sebab orang yang melampaui batas dalam berdebat, mengingkari hak orang lain, dia akan memanfaatkan untuk merusak sesorang termasuk berusaha untuk merusak usaha orang lain, menghabiskan harta orang banyak, bahkan dapat melalaikan kewajiban-kewajibannya. Ketahuilah apa yang terjadi diantara orang-orang yang mempunyai masalah dalam suatu negeri, konflik partai-partai dan sebagainya, itu merupakan akibat daari perdebatan-perdebatan yang melampaui batas sehingga tidak menemukan titik terangnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi benih-benih permusuhan yang berujung pada pembunuhan.
 Imam Nawawi pernah menyebutkan, bahwa sebagian ulama menetapkan hadits ini adalah musykil (samar-samar), karena sesungguhnya sifat ini biasa juga terdapat pada orang-orang muslim. Ketika ditanya oleh seseorang, beliau menjawab bahwa orang yang memiliki sifat seperti ini sama dengan orang munafik, dilihat dari segi akhlaknya, bukan dilihat dari segi imannya.
Ulama lain juga, misalnya al-Qurthubi berpendapat, bahwa yang dimaksid dengan nifak di sini ialah nifak amal, sedangkan ulama lain berpendapat bahwa nifaq itu adalah nifaq dalam keimanan (kepercayaan).
Orang-orang munafik seperti yang telah disebutkan ciri-cirinya di atas ialah orang yang telah terbiasa dengan sifat-sifat tersebut, telah menjadi adat dan kebiasaan yang terintegrasi di dalam kehidupan keseharian. Petunjuk yang telah menjadi adat itu ialah penjelasan dengan kata “إذ” , karena itu menunjukkan pada pengulangan pekerjaan itu.
Jadi orang yang berakhlak dengan sifat-sifat itu adalah munafik dan yang bersangkutan akan menempati neraka. Hadits tersebut merupakan barometer kemuliaan suatu bangsa dan kebahagiaannya.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Munafik adalah sifat tidak sesuainya antara apa yang diucapakan, apa yang di dalam hati dengan apa yang dilakukan.
2.    Ciri-ciri munafik yaitu berbohong, ingkar janji, berkhianat dan berlebih-lebihan dalam perdebatan. Inilah ciri-ciri orang munafik dalam perbuatan.
B.    Saran
Sebagai umat Islam yang menginginkan tersebarnya kebaikan dan rahmat Allah swt. maka langkah awal ialah kita harus terhindar dari sifat munafik ini. Dengan begitu kita akan menjadi seseorang yang dipercaya di masyarakat, sehingga kita dapat dengan mudah menyampaikan kebenaran agama Islam. Hal ini sesuai dengan yang dicontohkan Rasul saw. sebagai al-amin. Dalam menghindari sifat-sifat munafik ini, janganlah karena kita berpatokan pada asas manfaat dan mudhorot yang akan kita peroleh, melainkan karena hal itu merupakan perintah dan larangan Allah swt.











SUMBER BACAAN
Al-Qura>n al-Karim
Mu’jam al-Mufahras li-Alfaz al-Hadits al-Nabawi
Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve
Al-khuliy. Muhammad Abdul Aziz, al-Adaab al-Nabawi, al Quswa’ : Jakarta. 1993
Drs. Ahsin W. Al-Hafidz, M.A. Kamus Ilmu al-Quran, Amzah:2000
http://ceritakepompong.blogspot.in/ 2009/08 /ciri-ciri-orang-munafik.html
http://id.m.wikipedia.org/wiki/bohong
http://www.longlifeeducation-sukses.blogspot.in/ 2011/04 /kitab-kitab-Hadits-drajat-dan-sistem.html

5 komentar:

  1. terima kasih gan atas info nya...! semoga bermanfaat bagi kita semua...! amin...!

    BalasHapus
  2. trims. semoga kita terhindar dari sifat munafik.
    budi

    BalasHapus

Jika ada yang salah, mohon dikritik.
Jika tidak berkenan dihati anda, kami mohon maaf